Rindu tak kunjung usai



“Mau kamu apasih?” Teriakkanku memecah keheningan pagi ini. “Kamu itu sakit, nurut dong sama aku! Pokoknya aku kerumah kamu sekarang. Tunggu aku. Jangan kemana-mana  loh!” Pagi ini merupakan pagi yang cukup buruk untukku, laki-laki yang diam-diam kucintai sedang terbaring lemah dirumahnya. Laki-laki yang bahkan tak menganggapku lebih dari seorang saha—ah sudahlah. Pagi ini dengan cuaca yang terlihat mendung—pertanda hujan. Aku akan membawakan beberapa butir obat untuk segera diminumnya.
                                                            ~
“Vin, vino!! Buka pintunya!!”
Vino tak kunjung membukakan pintunya untukku. Segera aku membuka pintu kamar kos Vino dengan lancangnya. Terlihat seorang laki-laki yang sedang terbaring lemah karna sakitnya, dihadapan mataku sebuah kamar kecil terlihat sangat berantakan, bahkan lebih berantakan dari biasanya. Baju berkeliaran di bawah lantai, diatas televisi, diatas kasur, bahkan diatas kipas. Mencerminkan sekali dengan anak kos yang menghuni dikamar ini—Vino. Kakiku melangkah perlahan menuju Vino yang sedang tertidur diatas kasur yang seadanya. “Vin, bangun.. minum obat dulu yuk, aku bawain kamu obat, tadi aku beli di apotek” Dengan lembut aku membelai rambut Vino, hingga membuat ia membuka matanya perlahan. Vino terlihat kaget melihatku berada disisinya sekarang “Kamu ngapain disini, Grace?” Tanyanya dengan suara lirih. Aku menunjukkan bungkus obat yang tadi ku bawakan untuknya. “Nih, minum dulu yuk, biar cepet sembuh”. Aku membantu Vino meminum obatnya dengan perlahan “Abis ini kamu tidur lagi ya, istirahat, besok pagi ikut kuliah ngga?” Anggukanmu pertanda iya, tanpa kata satupun yang kamu keluarkan, mungkin tidak kuat untuk berkata banyak. “Grace?” Tangan Vino meraih tanganku, mataku saling berjumpa dengannya, kutatap matanya dengan teliti kucari-cari adakah sepotong hatinya untukku? Tapi aku tetap tak menemukan itu dimatanya. Mata teduhnya semakin membuatku jatuh kedalam cinta yang tak kunjung berhenti. Jantungku seakan berdenting makin cepat, aliran darahku membuat tubuhku memucat, bahkan tanganku mendadak sedingin es di kutub utara. Kami bertatapan lama sekali, hening seketika tanpa ada satupun kata yang terucap. “Aku kangen kamu Grace” Kata Vino polos nadanya lembut sekali, seperti seorang kekasih yang merindukan wanitanya—sudahlah itu hanya impianku. “Kamu ngapain kangen aku? Aku ngga akan pergi Vin, lagian kan kita tiap hari ketemu” Jawabku untuk memecahkan suasana antara kami. Atmosfir disekitar seakan berubah, tiba-tiba bola mataku panas, terasa ada butiran-butiran cairan  yang terus menelusup keluar. Aku tak ingin mengeluarkan cairan itu, akan terlihat sangat lemah sekali jika aku menangis dihadapan Vino. Aku menundukkan kepalaku, menyembunyikan wajahku dalam-dalam, mengalihkan pandanganku dari Vino, seolah-olah sedang melihat jam tanganku yang melingkar dipergelangan tangku menunjukkan pukul 5.15 sore. Aku tertunduk cukup lama, menahan air mata yang terus ingin keluar. Menengadahkan kepalaku sebentar lalu menatap mata Vino kembali. Sedikit mengacak-ngacak rambutnya “Vin, aku pulang ya, kamu jangan lupa minum obatnya” Vino tak menjawab, dia hanya menatapku dalam, aku beranjak dari tempat tidurku disisi Vino tiba-tiba ia menarik pergelangan tanganku. Bola mataku menemui bola matanya “Kamu hati-hati ya, kalo udah sampe rumah, jangan lupa hubungi aku”. Aku mengacungkan ibu jariku, melepaskan pegangan tangan Vino, aku melangkah keluar meninggalkan kamar kos Vino.
~                              
Suasana berganti, sang Fajar kembali ke perapian, sang Dewa muncul dengan sinarnya yang apa adanya tapi tetap menerangi bumi. Malam sunyi sendiri dirumah, tiba-tiba terlintas pikiranku tentang seorang laki-laki yang sejak belasan tahun kucintai, dagunya yang panjang, hidungnya yang mancung, tatapan matanya yang selalu redup tapi tetap membuat hatiku tenang, rambutnya yang tertata rapih selalu membuatnya tampan dihadapanku. Pipinya yang sedikit chubby membuatnya terlihat menggemaskan—ah sempurna sekali kamu dimataku Vin. Terbayang rasanya jika benar-benar bisa memilikimu seutuhnya. Berharap semua impian yang kutaruh kepadamu bisa terwujud. Ingin sekali rasanya aku memelukmu malam ini. Kulihat sekeliling kamarku dan mataku terfokus pada benda bulat yang tergantung pada dinding kamarku, kulihat sekarang tepat pukul 9 malam. Kuliah pagi yang akan kujalani besok menuntutku untuk tidur lebih cepat
                                                            ~
Pagi ini Sang Fajar tampil dengan gagahnya dilangit biru sangat cerah, puluhan awan terlihat beriringan seperti domba. Aku melangkah keluar kamarku, kuliah pagi adalah rutinitasku tiap hari selasa dan jumat, dengan mengenakan jeans panjang abu-abu, kaos putih polos melekat pada tubuhku, rambutku digerai seadanya. Tiba-tiba kriiiinggg,”Halo—“
“Aku didepan rumah kamu sekarang. Ayo buruan berangkat” Telepon diputus, dengan terburu-buru aku keluar kamarku dan segera menemui Vino yang sudah berada didepan rumahku.
“Ayo berangkat! Dandannya gausah kelamaan, kamu udah cantik juga kok” pernyataan Vino membuat senyumku mengembang lebar, aku tidak bisa menyembunyikan salah tingkahku. Pipiku memerah seperti bekas cubitan. “ayo cepetan naik, ga pake lama” kata Vino.
Dengan menaiki motor besar, aku dan Vino membelah jalanan ibu kota yang basah karna hujan—rupanya semalam hujan deras.
                                                            ~
Ternyata dikampus, seorang wanita telah menunggu Vino, wanita itu sangat terlihat manis mengenakan dress berwarna pastel, make-up yang sangat natural malah membuatnya terlihat makin cantik, rupanya wanita itu Aqila—teman kampusku dan kekasih Vino.
“Eh Grace, tumben  bareng Vino” tanya Aqila yang melihatku dengan Vino
“Oh ini tadi Vino jemput gue” Jawabku ringan.
Yap, memang ringan, karna aku dan Vino juga tidak lebih dari sahabat. Aku memang mencintainya sejak belasan tahun lalu, tapi hanya cinta diam-diam dan hanya aku yang mencintai. Tanpa balasan cinta. Huh cinta.

Aqila meraih tangan Vino yang baru saja turun dari motornya.
“kamu udah sembuh kan yang? Kita ke kantin aja dulu yuk bareng sama Grace, lo mau kan Grace?”
“Hah? Gue? Makasih lain kali aja ya, kalian berdua aja, gua masih ada urusan nih sama Dosen”
“Oh yaudah kita duluan yaa” Kata Aqila meraih tangan Vino dan mengajaknya meninggalkanku, wajah Vino setengah melihatku dibelakang, aku memalingkan wajahku dari mereka. Hatiku tak kuasa, seakan ingin meluapkan semuanya. Jantungku seakan berhenti berdetak, bulir-bulir air mata yang telah membendung akhirnya menetes. Mereka semakin tak terlihat, semakin jauh, dan disinilah aku, menunggu seseorang yang tak akan mungkin bisa kumiliki. Tiba-tiba seorang laki-laki bermata sipit dengan hidung mancung memberikanku tisu.
“Yuk, ikut aku, aku ajarin caranya moveon” Kata laki-laki itu sembari menghapus air mataku.
Laki-laki itu adalah Bayu, orang yang selama ini tak pernah kuanggap keberadaannya, yang tak henti mengejar cintaku tapi aku tak pernah menggubrisnya. Aku tersenyum. Bayu menyodorkan tangannya untuk kuraih, aku tersadar selama ini masih ada Bayu yang tak pernah ku anggap tapi tetap bisa mencintaiku. Mungkin cinta memang tak adil, tapi itulah kenyataannya. Akan bahagia jika kita menerima kenyataan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

11 Tahun dan Tetap Berlanjut(?)

When I missing you ..

I pick you