When I missing you ..
NEVER
LOST YOU..
Cinta terkadang bisa membuat
pelakonnya sedih, bahagia, tertawa dan segalanya yang bahkan tidak masuk akal.
Caraku mencintai
seseorang tidak harus diungkapkan bahwa aku mencintainya, aku mencintainya
dengan caraku sendiri cukup dengan memperhatikannya lewat jarak yang telah ku
ciptakan sendiri, tanpa pernah berharap untuk mendapat perhatiannya. Kehidupanku seolah terbelenggu olehnya.
Pikiran dan lamunanku selalu jatuh tepat pada dirinya. Dia yang telah merubahku
dari seorang yang memiliki pribadi yang periang, selalu tertawa, dan ceria
menjadi pribadi yang tertutup, senang melamun dan menjauhkan diri dari
keramaian.
~
“Halo Yasmin! Cie kan ngelamun
mulu. Kenapa si?” tanya seorang sahabat dekatku yang memecahkan lamunanku.
Tanpa menjawab dengan membuka mulut, aku hanya menggelengkan kepalaku, dan
langsung memandang lurus tepat pada tiang basket dikejauhan. Lula, sahabatku
dari kecil, rumah ku dan Lula memang sangat berdekatan---bisa dihitung beberapa
langkah. Hanya Lula yang mengerti perasaanku saat ini, dialah yang setia
mendengarkan luapan hatiku, dia yang selalu membuatku tegar dan memberi saran
pada masalah-masalahku.
“Nah kan Yas, lu mulai lagi.
Pasti gara-gara dia lagi. Ada apa lagi sih? Cerita dong, biasanya cerita?”.
Lagi-lagi aku diam seribu bahasa tanpa menjawab pertanyaan Lula. Seketika,
detak jantungku berdenting cepat, tanganku terasa sedingin es dikutub utara.
Dalam dimensi waktu yang sama, kedua bola mataku terasa sangat panas, terasa
benda cair didalamnya terus menerus menelusuk untuk keluar, dengan sekuat
tenaga ku coba untuk menahannya, tapi percuma saja, cairan itu tetap keluar dan
menjadi butiran-butiran air yang membasahi kedua pipi tirusku. “Ah kok malah
nangis si? Tuh kan ga cerita tiba-tiba nangis. Gausah sok kuat Yas, cerita sama
gue sini”. Lula langsung memeluk tubuh kecilku, rangkulan Lula seakan membuatku
tenang. “Lul” kataku dengan isak tangisku yang begitu dahsyat dan melepaskan
pelukan Lula. Kedua tangan Lula memegang bahuku erat, dengan wajah penasaran apa
yang akan kukatakan selanjutnya Lula menatapku tajam. “Lul, gue ga kuat nahan
ini semua, gue cinta Lul sama dia” dengan tangisanku yang semakin menjadi, ku
luapkan semua ceritaku pada Lula. “Yasmin, kan gue udah bilang, lu mau
ngungkapin atau ngga itu tergantung lu. Daripada lu sembunyiin sendiri malah
jadi beban, apalagi lu sama Yudha juga udah temenan dari kecil kan berarti udah
ngerti sifatnya satu sama lain” kata Lula tegas. Aku terdiam, suasana membisu,
waktu seakan berhenti berdetak, nadiku seakan berdenyut palsu, suhu seakan
meninggi seperti di kutub utara, kusembunyikan dalam-dalam wajahku dengan kedua
tanganku.
Yudha. Biasa kupanggil dengan
sebutan “mancung”. Laki-laki bertubuh tinggi, dengan berkulit sawo matang dan
potongan rambut seperti Fedi Nuril, hidung mancung, dan bermata sedikit sipit.
Laki-laki yang sejak kecil bersahabat dekat denganku, kami saling menyayangi
dan saling membutuhkan satu sama lain. Tapi, seiring waktu, perasaanku pada
Yudha mulai berbeda. Muncul rasa yang lebih dari itu, aku ingin memiliki Yudha
seutuhnya. Dia unik, dia berbeda, dia selalu ada cara sendiri untuk membuatku
tertawa lepas. Aku sangat mencintainya.
~
Mentari pagi ini seakan masuk ke
sela-sela ventilasi kamarku. Dengan suara kokokan ayam di pagi hari, sang fajar
mulai muncul. Burung-burung kecil bernyanyi dengan merdunya, rumput-rumput
masih diselimuti air embun pagi. Gradasi warna mentari diufuk timur seakan
menunjukkan mantap kekuasaan-Nya. Melihat seisi ruang kamarku, mataku tertuju
pada 1 benda bulat dengan jarum kecil yang menunjukkan pada angka 7. Pagi ini
aku sudah janji untuk bertemu dengan Lula di cafe kecil biasa kami bertemu.
~
“Hai Lul” sapaku ceria sambil
berjalan menuju meja yang telah dipesan Lula. “Cie temen gue udah mau senyum
lagi nih.. gimana? Udah mendingan?” tanya Lula sedikit serius. Aku menjawab
dengan sebuah senyuman tulus yang tersungging di bibirku.
“Oiya nanti malem gue mau ketemu
sama Yudha, tadi dia sms ngajakin ketemuan di taman Suropati, mau ngomongin apa
ya Lul kira-kira dia?”.
“Taudeh, tuh anak susah ditebak
sih, misterius banget” jawab Lula
“Emm,, susah ditebak ya? Itu yang
bikin dia beda”
Lula hanya terkekeh mendengar
jawabanku, sampai-sampai ice cream float yang diminumnya membuatnya tersedak.
Memang sifat Yudha sangat susah
ditebak dan sangat misterus tapi itulah yang membuatku semakin jatuh hati
padanya.
~
Senja mulai pergi menjemput
malam. Langit di ujung cakrawala kini tak lagi biru, ia telah memancarkan
polesan warna jingga senja dalam balutan gradasi warna yang begitu indah.
Paduan warna yang tergambar jelas dan nyata, memantapkan pesan kekuasaan-Nya.
Awan berarak ceria mengantarkan sang raja siang ke peraduan dan menjemput
bidadari malam yang kan menyinari bumi tuhan ketika gelap telah menyelimuti.
Malam ini Yudha memintaku
menemuinya di Taman, aku bergegas menuju taman. Ibu kota mulai beraksi, malam
hari saja jalan dipenuhi ribuan kendaraan yang susah bergerak. Yaps, aku
terjebak macet padahal taman sudah dekat, aku memutuskan turun dari taksi dan
berjalan menuju taman.
Ditaman, seorang pria berpostur
tinggi, memakai celana jeans dan kaos ¾ warna hitam sedang berdiri disebelah
lampu taman dan seperti menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Rupanya itu
Yudha, dengan cepat aku langsung menemuinya.
“Halo, udah lama ya? Sorry ya,
gua tadi kejebak macet nih, biasalah ibu kota, wajar aja macet mulu” Kataku
menjelaskan dengan nafas terengah-engah akibat lari untuk menemui Yudha.
“Gapapa, nyantai, cari tempat duduk yuk” Yudha langsung menyambar tangan
kananku dan menariknya. Jantungku seakan berdegup makin kencang, bahkan darahku
seperti mengalir makin deras, helaan nafasku bahkan hingga terengah-engah
dibuatnya---Yaampun Yud, Cuma kamu yang bisa bikin aku begini.
~
“Sini yuk duduk” kata Yudha
mengajakku duduk disebelahnya. Tanpa berbicara apapun aku langsung duduk
disamping Yudha.
“Gue mau ngomong sesuatu sama lu,
tapi janji ga nangis ya?” tanya Yudha yang membuatku penasaran.
“Iya, mau ngomong apa si? Sok
penting deh, ngapain juga nangis buat lu” Ejekku untuk mencairkan suasana
“Besok gue berangkat ke Jerman,
ayah nyuruh gue buat nerusin sekolah disana”
Hatiku seperti tersambar petir,
pandanganku kosong, wajahku memucat, suasana seakan bertambah dingin, jantungku
yang tadinya berdegup kencang sekarang seperti berhenti berdegup, nadiku bahkan
seperti tak berdenyut. Ada rasa sesak didasar hati yang sulit untuk kukatakan.
Mata ku terasa sangat panas, mencoba menahan air didalamnya tapi aku tak kuasa,
air mata yang coba ku bendung meluap begitu saja membanjiri wajahku yang
tertutup make-up. Yudha memelukku erat, aku menangis dalam pelukan Yudha.
“Tapi kenapa Yud? Kenapa harus
sekarang?”
“Kalo gue disuruh milih lu atau
ayah jujur itu pilihan yang susah banget buat gue. Maafin gue” kata Yudha
menjelaskan, rasanya air mata Yudha juga tumpah malam ini.
“Aku sayang sama ka---“ belum
sempat aku menyelesaikan omonganku, Yudha langsung memotongnya “Aku juga sayang
sama kamu, tapi aku ga bisa apa-apa yasmin, aku anak terakhir dan aku harus
bikin ayah seneng terutama setelah ibu udah ga ada” kata Yudha menjelaskan.
Mata Yudha menusuk tajam
kearahku, seolah dia benar-benar tidak ingin ni terjadi.
“Tapi lebih dari itu, Aku cinta
sama kamu Yud” kataku langsung beranjak dari tempat dudukku dan pergi
meninggalkan Yudha.
Dikeheningan malam itu, aku
hampa, sepi, dalam lamunan yang membayangkan hidupku kedepan tanpa Yudha. Tapi
itu semua adalah takdir-Nya, Ia sang sutradara Mahadahsyat yang tahu bagaimana
selanjutnya, sang pencipta skenario terbaik yang akan menjadikan ending cerita
ini menjadi lebih menarik dan lebih indah dari perkiraan. Aku terlelap di malam
yang sangat sulit bagiku, jujur kejadian ini tak pernah terbayangkan
sebelumnya.
~
Pagi ini cuaca tidak secerah
kemarin, bahkan sang fajar tak menunjukkan keberadaannya di ufuk timur,
burung-burungpun tak lagi bernyanyi. Tiba-tiba ponselku berdering ternyata
telfon dari Lula.
“Halo, Yasmin, mau ikut nganter
Yudha ke bandara ngga?” Suara Lula dari ujung telepon. “Hah? Ngga deh Lul, gue
ga enak badan, salam aja ya buat Yudha” kataku dengan nada lirih. “Yakin gamau
ikut? Yaudah deh ntar gue salamin” kata Lula dan langsung terdengar bunyi tut
sangat panjang dari ujung telepon.
~
Beberapa hari kemudian setelah
kepergian Yudha ke Jerman, Lula berkunjung kerumahku, ia memberikan sebuah
kotak kecil padaku yang berisi sebuah liontin indah dengan huruf “Y” dan surat
didalamnya.
“Ini dari Yudha, dia takut lu
marah sama dia, ini kenang-kenangan buat lu” Aku tersenyum mendengar kata-kata
Lula barusan, butiran air mataku menetes sedikit demi sedikit. Aku membaca
surat dari Yudha dengan tetesan air mataku yang terus membasahi bagian dari
surat itu.
Hai
cewek unyu, gausah sedih ya, jangan nangis lagi loh. Gue juga nanti bakal balik
kok. Lu jangan marah sama gue ya, sebenernya gue juga cinta sama lu. Setelah
lama kita sahabatan, perasaan gue lebih ke lu. Gue ga pernah mau ngungkapin
perasaan gue karna gue takut hubungan kita jadi menjauh. Gue mohon lu jangan
lupain perasaan lu ke gue ya. Seperti kata Erza Scarlet, Moving on doesn't mean you forget about
things. It's just means you have accepted what happened and continue living.
Ntar gue balik kejakarta lagi, kita ketemu
ya.
Salam unyu,
Mancung “Y”
Begitulah cara Yudha yang secara
diam-diam mencintaiku dan begitu pula dengan mudahnya ia pergi meninggalkanku. Caraku
mencintai seseorang tidak harus diungkapkan bahwa aku mencintainya, aku
mencintainya dengan caraku sendiri cukup dengan memperhatikannya lewat jarak
yang telah ku ciptakan sendiri, tanpa pernah berharap untuk mendapat cintanya.
Aku percaya akan angan-angan dan mimpi. Tapi kuserahkan semua pada-Nya. Pembuat
skenario MahaDahsyat yang membuat jalan paling baik untuk umatnya.
Dari
pengagum rahasiamu
Yang
tak tahu diri ..
Komentar
Posting Komentar