Kita (Tak) Pernah Ada


Pernahkah kau berada di titik saat hidupmu mulai tak karuan? Mengira semua yang telah kaulakukan adalah hal yang benar dan menganggap apa yang kaujalani selama ini baik-baik saja, padahal semua yang kaulakukan ternyata hanya berujung sia-sia. Itulah yang kualami selama 2 tahun terakhir bersamanya.

            Seorang lelaki tiba-tiba saja hadir dalam hidupku. Menorehkan namanya sebagai salah satu orang yang sangat kucintai. Kehadirannya tak pernah kusangka sebelumnya. Seperti orang yang tak pernah menyangka akan memenangkan kuis dari undian yang ia ikuti. Aku juga tak pernah mengira  Tuhan menyusupkan lelaki itu hingga akhirnya mendapat tempat yang istimewa di hatiku.

            Perkenalanku dengannya bermula dari obrolan dan diskusi singkat di ruang maya. Kita berbicara tentang pemerintah seperti orang yang paling tahu jalan terbaik untuk kebijakan pemerintah, atau saat senja kita tenggelam dalam perbincangan hal-hal manis tentang cinta ditemani jingga yang warnanya kian menggelap. Tapi tetap saja perbincangan yang kita jalani hanya di ruang obrolan maya yang tak dapat tersentuh. Aku bahkan tak bisa melihat mimik wajahnya saat membicarakan tentang konspirasi, aku juga tak bisa menatap matanya yang entah memancarkan sinar bintang atau tatapan elang ketika kita sedang berbicara tentang pemerintah, bahkan aku tidak bisa melihat garis bibirnya ketika kita sedang tenggelam dalam ruang obrolan maya membicarakan tentang cinta yang tak dapat terdefinisi.

            Sejak kehadirannya, kurasa banyak sifat dari diriku yang berubah. Aku yang menjadi pendiam di hadapan teman-temanku, aku yang selalu merasa haus pengetahuan dan selalu ingin membaca buku, aku yang tak bisa jauh dari handphone sebab ingin selalu tenggelam dalam ruang obrolan hangat bersamanya. Ternyata bukan itu saja perubahan yang terjadi pada diriku, aku pun jadi sering senyum-senyum sendiri dengan layar ilusi, aku lebih memilih sibuk dengan handphoneku daripada berinteraksi dengan teman-temanku, dan yang terakhir aku merasa semakin hari semakin ada yang janggal dari obrolan-obrolanku bersamanya. Tidak, bukan semakin asyik membahas kebobrokan Negara, atau membahas tentang konspirasi yang hanya teori. Bukan, bukan itu. Tapi lama kelamaan pembahasan kita menjadi out of topic, kita justru membicarakan hal-hal yang menurutku sangat pribadi—ya, apalagi jika bukan perihal hati.

Hingga akhirnya, di saat yang—entah tepat atau tidak—ia menyatakan hal yang paling sensitif, yang mungkin masih terlalu singkat untuk kita berdua saat itu. Hey, bahkan kita masih belum pernah berjumpa hingga ia menyatakan perasaannya. Aku menjawab iya untuk pernyataan yang ia ungkapkan, berharap jawaban yang telah kupilih untuknya tak pernah salah. Meski pikiranku mengatakan tidak sebab saat itu kita belum mengenalkan diri secara langsung, aku bahkan tak tahu lekuk wajahnnya, seperti apa tatapan matanya, dan aku juga belum tahu bagaimana kita akan menjalani hubungan dengan serius jika bertatap mata saja tak pernah?

            Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjalin sebuah hubungan dengan tak main-main. Bukan juga waktu yang singkat untuk berusaha bertahan dengan jarak yang terbentang beratus-ratus kilometer. Kita akhirnya dihadapkan pada sebuah kenyataan yang seharusnya sudah bisa kutebak dari awal, mana mungkin dua orang manusia bisa saling mencinta tanpa pernah memandang wajah dan dipisahkan beratus-ratus kilometer jarak yang terbentang? Bahkan para pembaca mungkin sudah bisa menebak akhir dari cerita yang kutuliskan ini. Harusnya memang tak perlu ada yang lebih dari kita. Lihat, bahkan waktu dua tahun tak pernah membawa kita pada suatu pertemuan. Kita begitu lugu percaya pada cinta yang kehadirannya bahkan tak dapat dilihat atau disentuh. Kita terlalu bodoh percaya pada cinta yang bertengger pada ruang obrolan dunia maya. Bahkan menurutku, yang hadir di antara kita bukanlah cinta, melainkan hanya perasaan nyaman yang singgah hanya untuk sementara. Dan benar saja, apa-apa yang telah kita usahakan ternyata sia-sia. Selama ini, kukira kau adalah belahan hatiku yang Tuhan kirimkan untuk nanti menua bersama, kukira kau adalah tulang punggung yang nanti akan membiayai seluruh kebutuhan dan kukira aku adalah tulang rusukmu yang hilang yang akhirnya kautemukan. Tapi ternyata itu hanya perkiraanku. Kenyataannya kita memang tak pernah ditakdirkan untuk bersama, kita tak pernah berjalan berdampingan sebab kita tak pernah berada pada jalur yang sama, dan kita tak pernah ada karena kita hanya mengada-ada.


Bermil-mil jarak yang teruntai,
Beribu-ribu impian yang tertanam
Akan tetap kalah hanya dengan satu takdir Tuhan.
. . . . .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

11 Tahun dan Tetap Berlanjut(?)

When I missing you ..

I pick you