Balas Dendam yang Baik

Halo kawan-kawan, sudah lama sekali tidak menulis di blog. Padahal dulu saya janji akan lebih rajin menulis, tapi apa daya ternyata kesibukan menyita waktu saya dan rasa malas lebih besar daripada ambisi saya untuk menulis. Akhirnya saya menulis lagi dan kali ini saya bercerita tentang pengalaman hidup saya. Semoga kalian yang membaca bisa mengambil pelajaran dari cerita saya.
-
Kisah ini dimulai pada tahun 2014, seorang anak perempuan kelas 3 SMP di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Bekasi yang biasa dipanggil Dinda oleh teman-temannya memulai perjalanan panjangnya. Perjalanan hidup yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, lika-liku takdir yang membawanya hingga saat ini. Cerita ini bukan hanya tentang motivasi mengenai hidup, tapi juga tentang cara memberi balasan terbaik kepada orang-orang yang meremehkan.
-
            Nama saya Dinda, saya lahir dan hidup di keluarga yang sangat menyenangkan. Ayah saya seorang pegawai swasta di Jakarta, dan ibu saya seorang ibu rumah tangga. Saya punya seorang adik yang umurnya selisih 7 tahun dengan saya. Keluarga saya bisa dibilang keluarga yang harmonis, meski sering sekali ada keributan di dalam rumah kami, misal hanya karena aku ingin menonton tv acara ajang pencarian bakat, dan adikku ingin menonton kartun kesukaannya. Hal seperti itu saja bisa jadi sebuah keributan berkepanjangan dalam keluarga ini. Tapi tetap saja, saya mencintai keluarga saya dengan segala kekurangannya. Oh iya, mari lanjut dengan cerita pendek yang akan saya buat.
Kisahnya dimulai awal tahun 2014, ketika saya masih kelas 3 SMP. Untuk informasi kepada pembaca, saya ini bukan termasuk murid yang pandai di kelas, tapi saya aktif dan mudah menangkap materi yang diberikan oleh guru saya. Oleh karena itu, sejak kelas 1 SD hingga SMA saya selalu mendapat peringkat minimal 5 besar. Paling maksimal waktu itu saya bisa mendapat ranking 3 ketika SMA. Lanjut dengan cerita.
Saat itu bulan Januari 2014, saya sudah berstatus sebagai siswa kelas 3, yang artinya sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional, yang artinya juga sebentar lagi saya akan menanggalkan status sebagai siswa SMP dan beralih menjadi siswa SMA. Saat itu di sekolah saya sedang ada promosi dari salah satu SMK Kesehatan yang ada di Bekasi. Sekolah itu menawarkan 2 jurusan, yaitu farmasi dan analis kesehatan. Kebetulan, sejak kecil saya tertarik dengan dunia kesehatan. Saya bertekad ingin menjadi pegawai di rumah sakit, entah dokter atau perawat. Tapi saya realistis, jika saya menjadi dokter, orang tua saya tidak akan sanggup membiayai untuk kuliah saya, akhirnya saya memilih untuk menjadi perawat. Kemudian saya memperhatikan dengan serius promosi yang dilakukan oleh SMK Kesehatan tersebut. Tidak lama kemudian, seorang guru dari SMK menanyakan kepada seluruh siswa kelas saya “Ada yang ingin jadi tenaga kesehatan?” lalu saya dengan sigap mengacungkan tangan dan berkata “Saya bu”. Kemudian, ibu tersebut bertanya kembali “Mau jadi apa?” lalu saya menjawab dengan lantang “Perawat bu”. Hal yang tak pernah saya duga adalah, ibu-ibu tersebut bukannya memberi semangat tapi malah berkata “Perawat kan cuma pembantu dokter. Kerjanya cuma beres-beres tempat tidur dan disuruh-suruh dokter”. Seperti disambar petir, saya kesal bukan main dengan perkataan ibu tersebut. Bahkan sampai detik saya menulis cerita ini, saya masih ingat dengan namanya dan di sekolah mana ia mengajar. Saya bukan berkecil hati atau jadi down karena perkataannya. Justru dendam saya tersulut untuk membuktikan kepadanya bahwa perawat tidak hanya seperti yang dia katakan, tapi lebih dari itu. Bahkan tugas perawat tidak se-simple merapikan tempat tidur saja, melainkan memenuhi segala kebutuhan pasien, perawat juga seperti edukator yang memberikan ilmu tentang kesehatan pada pasien, perawat juga merupakan konsultan sebagai tempat konsultasi terhadap tindakan perawatan yang diberikan.
Sejak saat itu, saya terus berusaha untuk mewujudkan mimpi saya menjadi perawat yang profesional, perawat yang tidak hanya dipandang sebelah mata bahkan oleh guru SMK. Kemudian saat lulus dari SMP, saya melanjutkan sekolah di SMK Kesehatan di Kota Magelang dan hingga saat ini saya berhasil menjadi mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga. Saya mengucapkan terima kasih pada guru SMK yang pernah meremehkan saya ketika saya SMP. Beberapa tahun lagi, saya akan membuktikan padanya bahwa saya bisa menjadi lebih dari yang dia kira.
-
            Cukup sekian kisah ini saya akhiri, semoga kawan-kawan yang membaca kisah ini bisa termotivasi untuk melakukan hal yang lebih baik dan bermanfaat. Jika ada kawan-kawan yang pernah diremehkan, jangan pernah patah semangat dan tunjukkan bahwa kalian bisa menjadi yang terbaik.


Regards,
Adinda Reza Wibawati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

11 Tahun dan Tetap Berlanjut(?)

When I missing you ..

I pick you