Timeline.
Sudah lama ya saya tidak menulis di blog ini, bahkan terakhir saya menulis tahun 2018. Wow it’s been 3 years ago. Keadaan saya sudah jauh berubah dari pada 3 tahun yang lalu. Ketika itu saya masih menjadi mahasiswa baru. Sekarang? Saya sudah menjadi mahasiswi semester akhir di salah satu universitas negeri di Surabaya. Banyak sekali yang sudah saya lewati dalam 3 tahun terakhir; mengakhiri masa beradaptasi, memulai kehidupan baru di kota yang berbeda, menjalin hubungan dengan teman-teman baru di dunia kopi, memulai relationship dengan kekasih saya sekarang, dan lain-lain. Saya bangga bisa menjadi diri saya yang sekarang, bukan hal mudah bisa sampai pada titik ini. Begitu banyak cobaan yang datang dan pergi. Beruntungnya, saya tetap bertahan.
Di
dalam hidup, semua orang memiliki cita-cita, impian dan harapan. Atau hanya
sekadar tujuan singkat yang ingin dicapai dalam waktu dekat. Ya, kita semua
pasti punya itu. Jika saat membaca ini kamu berpikir dan merasa belum
memilikinya, ada baiknya segera dipikirkan sekarang.
Dalam
mencapai tujuan itu, jalannya tidak akan mudah. Banyak hal-hal tidak terduga
yang akan kamu hadapi nanti. Kamu bisa saja menemui jalan yang berkelok-kelok,
menanjak, penuh bebatuan, bahkan sering kali buntu dan terpaksa harus putar
balik. Tapi kuncinya adalah “jangan menyerah sedikitpun”. Kamu tetap harus
bergerak dan mencapai tujuanmu, meski harus putar balik atau membuat rencana
lain, kamu tetap tidak boleh menyerah.
Seringkali
ada saat di mana cobaan itu terasa begitu berat dan datangnya bukan dari dirimu
sendiri melainkan dari lingkungan; entah temanmu, gurumu, keluargamu, dll.
Memang menyakitkan ketika tujuan kita bertentangan atau tidak didukung oleh
orang lain, apalagi seseorang yang kita harapkan menjadi pendukung nomor 1
dalam mencapai tujuan kita. Tapi ingat, bukankah setiap hal selalu ada pro dan
kontra? Dan bagaimana pun itu, kamu punya pilihan untuk tetap melanjutkan
mimpimu dan tidak mendengarkan apa kata orang lain.
Saat
menulis ini, saya sedang merasa berada di fase terbawah. Saat-saat di mana
menjadi mahasiswa akhir dan harus mengerjakan skripsi. Saya sudah menyelesaikan
apa yang harus saya selesaikan di tahap pertama (re: proposal skripsi) dan
hanya tinggal menunggu untuk seminar proposal. Tapi tiba-tiba ada jalan berbatu
dan terjal di depan saya, dosen penguji saya sangat sulit dihubungi, bahkan
saya sudah menghubungi sejak 3 hari yang lalu tetapi tidak pernah direspon.
Saya mencurahkan apa yang sedang saya hadapi kepada dua teman dekat
saya—sahabat saya sejak maba. Ternyata respon mereka negatif, saya kaget, saya
sangat terpukul. Saya merasa dijatuhkan. Kedua teman saya ini sama-sama
merespon dengan kalimat “emang ngapain sih buru-buru? Urgensinya juga gak ada”
Teman-teman, banyak hal yang bisa saya jelaskan untuk ini. Pertama, saya punya timeline yang sudah saya buat dan harus saya realisasikan pada tahun ini, salah satunya adalah wisuda di tahun ini. Kedua, saya tidak buru-buru, fase yang saya jalani ini menyesuaikan dengan timeline yang sudah saya buat. Ketiga, urgensinya ada, yaitu saya ingin segera lulus, saya tidak ingin menjadi mahasiswa yang lulus telat, itu urgensi, sangat penting. Keempat, posisi saya saat itu hanya cerita; mencurahkan isi hati saya, tapi kenapa responnya begitu kasar?
Saya down. Sangat sangat down. Bahkan saya sampai menonaktifkan notifikasi chat dari kedua teman saya tersebut. Tetapi terlepas dari apa yang sedang terjadi pada saya saat ini, saya yakin semua akan saya lewati dengan baik. Saya pasti bisa menyelesaikan semua sesuai dengan timeline yang sudah saya buat. Pesan saya untuk kejadian seperti ini adalah:
Everyone has their own time. Kamu gak perlu memaksa temanmu untuk mengikuti waktumu, begitupun kamu gak perlu mengikuti timeline yang sudah dibuat oleh temanmu.
Apapun yang terjadi—kita harus tetap bertahan.
Best Regards,
Adinda Reza W.
Komentar
Posting Komentar