Sebuah Corat-coret: Pertemanan, Cita-cita, Cinta dan Pernikahan
Huftttt *menghela napas panjang*
Berat sekali untuk saya yang sedang mengalami writer’s block ini untuk kembali mencoba menulis. Bahkan sampai saya mengetik kalimat ini pun saya masih belum tau akan menulis tentang apa kali ini. Saya berusaha untuk tetap mengetik ini sambil barangkali tiba-tiba ada ide untuk menulis apa atau membiarkan tulisan ini mengalir begitu saja. Toh tulisan saya juga tidak pernah membahas topik-topik yang berat dan membutuhkan kapasitas otak untuk bekerja lebih keras.
Malam saat menulis tulisan ini, saya baru selesai videocall dengan pacar saya yang berada di belahan pulau lain, saya juga baru saja selesai main, ngobrol, makan dengan sahabat-sahabat saya yang sudah berteman dengan saya selama 11 tahun, ya 11 tahun adalah setengah dari umur saya. Terlalu lama berteman dengan mereka justru membuat saya menganggap mereka seperti keluarga saya sendiri, mereka ada di saat saya butuh support, mereka yang sekalipun kita gak berkomunikasi dalam waktu lama, tapi kita pasti akan kembali main bareng lagi. Pertemanan saya paling langgeng dan tanpa drama ini itu ya bersama mereka. Saya cukup bersyukur di usia sekarang masih punya sahabat-sahabat yang solid dan selalu ada untuk satu sama lain. Kalau orang-orang bilang, semakin kita dewasa, semakin kecil pula circle kita. Saya rasa itu benar, karena sejauh saya merantau ke Magelang dan Surabaya ya ujungnya balik lagi ke mereka. Saya berharap bisa selamanya bersahabat dengan orang-orang ini karena begitu berarti mereka untuk kehidupan saya.
2022 sudah berlalu setengah tahun dan banyak keadaan yang berubah sejak saya terakhir kali menulis blog ini. Mulai dari profesi saya yang sudah selesai, saya sudah lulus UKOM Ners bahkan bulan depan saya akan merayakan pelantikan ners (yeay!). Perjalanan saya sudah sejauh ini tapi rasanya saya seperti baru akan memulai kehidupan. Setelah pelantikan, saya akan langsung melamar kerja sana-sini karena sejujurnya saya sudah kebelet banget untuk merasakan kehidupan bekerja. Saya ingin merasakan atmosfir yang dirasakan para pekerja seperti malas bertemu hari senin, bekerja lembur sampai malam, senang kalau sudah hari jumat, merasakan senang ketika gajian padahal uangnya langsung habis untuk membayar seluruh tagihan. Hal-hal menyebalkan yang dibenci para pekerja tapi begitu saya idam-idamkan.
Alasan saya sangat ingin bekerja adalah saya ingin segera mewujudkan hal-hal yang menjadi impian saya sejak dulu. Menjadi perawat di RS besar dan mengikuti pelatihan bedah kemudian menjadi perawat bedah. Sesederhana itu tapi begitu panjang jalan yang harus saya lalui. Tapi ketika saya berpikir kembali, setelah impian sederhana saya terwujud, lalu saya ingin apa? Apa yang harus saya lakukan lagi setelah itu? Menikah? Sejujurnya saya tidak pernah menjadikan pernikahan sebagai salah satu goals yang harus saya kejar sekuat tenaga, tapi ketika ada seseorang yang cocok dan pantas untuk menjadi partner saya dalam menjalani ibadah paling panjang seumur hidup, ya saya tidak akan menolak. Menurut saya, pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Mungkin itu kalimat klise yang sering dibilang semua orang. Tapi saya pikir kalimat itu berarti sesungguhnya. Ketika seorang laki-laki telah menjabat tangan wali nikah dan mengatakan “saya terima nikah dan kawinnya …… binti …… dengan mas kawin tersebut tunai” itu berarti ia (laki-laki) sudah siap menanggung semua tanggung jawab di punggungnya, siap menanggung dosa yang dilakukan istrinya, siap menjalani asam pahitnya kehidupan bersama partnernya, siap untuk tidak pergi dan menghadapi semua masalah yang akan dilewati dengan baik. Bahkan membayangkan itu saya bergidik ngeri. Pernikahan merupakan hal yang semua orang berharap melakukannya sekali seumur hidup, saya pun begitu. Oleh karena itu penting untuk mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan untuk menikah. Mempersiapkan finansial yang stabil, mematangkan emosi dan perasaan agar bisa menjadi pribadi yang lebih bijak, mendewasakan pikiran, dan hal-hal lainnya. Belum lagi harus mempersiapkan untuk menjadi orang tua, belajar ilmu parenting, mempersiapkan hal-hal apa saja yang dibutuhkan ketika memiliki anak, dan lain-lain. Kalian semua pasti tidak ingin dong, salah mendidik anak dan anak menjadi terlambat dalam tumbuh kembangnya. Ya meskipun begitu, saya dan pasangan sudah mempersiapkan timeline kapan kami akan melangsungkan hal sakral itu. Mohon doanya agar kami sama-sama menjadi pribadi yang baik untuk satu sama lain.
Sudah
cukup panjang ternyata tulisan saya kali ini, padahal di awal saya bingung akan
menulis tentang apa dan sampai akhir tulisan ini saya masih belum tahu apa judul
yang akan saya beri tulisan ini. Tapi ya sudah, saya akhiri saja karena saya
ingin menikmati sisa malam ini dengan menonton salah satu film baru di Netflix.
See you next time, good readers!
Best
Regards,
Adinda
Reza W.
Komentar
Posting Komentar